Pertunangan itu dibatalkan. Yang dibutuhkan hanyalah sebuah undangan pernikahan yang memuat foto pria yang pernah bertunangan dengannya, berdiri di samping sahabatnya selama sepuluh tahun. Dengan itu, di usia tiga puluh satu, Han Yujoo membuang cinta dan persahabatannya. Yang tersisa hanyalah kenyataan menyedihkan menjadi editor junior di sebuah majalah mode selama lima tahun. Seseorang yang namanya bahkan tidak layak dicantumkan dalam satu baris kolom pun.
Tak satu pun dalam hidupnya, baik pekerjaan maupun cinta, berjalan sesuai keinginannya. Kemudian Goh Taei muncul di hadapan Yujoo. Seorang pria yang hidup di bawah sorotan publik. Wajahnya yang mempesona terpampang di papan reklame di mana-mana. Namun dalam sebuah wawancara, ia menunjukkan sisi yang tak terduga, matanya berlinang air mata, dan mengakui sebuah rahasia kepada Yujoo secara pribadi.
“Aku akan segera mati. Karierku mungkin sudah setengah jalan. Jadi manfaatkan aku. Berhentilah berpura-pura baik.” Cara bicaranya, seolah-olah dia tidak punya apa-apa lagi untuk kehilangan, dan cara dia bertahan hidup dan menghadapi kehancuran, terasa sangat mirip dengan Yujoo sendiri.
Sebuah tiket emas jatuh ke pangkuannya di tengah situasi tanpa harapan. Dia takut meraihnya, tidak yakin apakah itu keberuntungan atau jebakan. Pilihan apa yang harus Yujoo ambil?